MAKASSAR — Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa jabatan di lingkungan Kementerian Agama secara otomatis menjadikan seorang pegawai sebagai tokoh masyarakat. Karena itu, integritas dan citra harus dijaga.
“Ketika pejabat Kementerian Agama tidak lagi dihormati masyarakat, maka citra Kementerian Agama juga ikut menurun. Sikap, perilaku, dan pelayanan harus menjadi contoh yang baik,” tegasnya di hadapan peserta di Makassar, pekan ini.
Dalam suasana penuh keakraban, Nasaruddin melontarkan ide soal kawasan pemakaman khusus bagi keluarga besar Kemenag. Menurutnya, ini bukan soal tempat, melainkan menjaga ikatan persaudaraan.
“Kalau suatu saat kita berziarah, cukup datang ke satu kawasan, di sana kita bisa mendoakan banyak sahabat dan keluarga besar Kementerian Agama. Ini tentang menjaga ikatan persaudaraan hingga akhir kehidupan,” ujarnya.
Ia juga mendorong setiap satuan kerja mengadakan kegiatan kebersamaan atau retret sederhana bersama keluarga besar kantor minimal setahun sekali. Kegiatan itu tidak harus mewah, asalkan substansi kebersamaan tetap terbangun.
Nasaruddin mengingatkan para pimpinan di lingkungan Kemenag agar memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan staf. Seorang pemimpin, katanya, tidak cukup hanya mengatur pekerjaan, tetapi juga membantu bawahannya merencanakan masa depan, termasuk memiliki rumah melalui perencanaan keuangan.
“Bila direncanakan dengan baik, insya Allah semua bisa diwujudkan. Pemimpin harus hadir memberikan semangat dan solusi bagi stafnya agar memiliki kehidupan yang lebih baik,” pesannya.
Menteri Agama mendorong agar kantor-kantor Kemenag menjadi pusat pembinaan spiritual. Minimal dua kali sepekan, perlu disediakan ruang salat berjamaah bagi pegawai Muslim, sementara pegawai dari agama lain juga mendapat ruang pembinaan rohani sesuai keyakinan.
“Tempat kerja jangan hanya menjadi ruang menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjadi tempat membangun karakter dan spiritualitas pegawai,” katanya.
Ia juga mengajak pegawai melibatkan keluarga dalam kehidupan pekerjaan. Anak-anak sesekali diajak ke kantor agar memahami bagaimana orang tua mereka mengabdi kepada negara. Termasuk, kata Nasaruddin, melihat perjuangan sopir dan petugas yang kerap bekerja hingga larut.
Dalam aspek pengabdian sosial, Menteri Agama mengajak pejabat dan ASN lebih sering turun langsung membantu masyarakat, mengunjungi panti asuhan, dan kegiatan sosial lainnya.
“Kementerian Agama harus benar-benar hadir dan berdampak bagi masyarakat. Jangan hanya bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat yang membutuhkan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya solidaritas tanpa membedakan jabatan. Seorang pejabat, menurutnya, tidak hanya menghadiri undangan dari kalangan pimpinan, tetapi juga perlu hadir dalam kegiatan petugas kebersihan dan tenaga pendukung.
“Jangan hanya datang pada acara pejabat. Hadirilah juga acara cleaning service, sopir, dan seluruh teman sejawat. Di situlah tumbuh rasa persaudaraan,” ujarnya.