MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar menunjukkan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai sejarah dan kebudayaan melalui partisipasi langsung Wali Kota Munafri Arifuddin dalam peringatan empat abad Syekh Yusuf Al-Makassary. Acara yang digelar di Auditorium KH Muhyiddin Zain itu turut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, serta jajaran akademisi dan tokoh agama.
Menurut Munafri, Syekh Yusuf Al-Makassary meninggalkan warisan keteladanan yang tidak lekang oleh waktu. Nilai perjuangan, keilmuan, dan spiritualitas tokoh asal Gowa itu dinilai perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat.
“Keteladanan Syekh Yusuf merupakan warisan besar yang tidak hanya patut dikenang, tetapi juga diaktualisasikan dalam pembangunan kota,” ujar Munafri dalam sambutannya.
Ia menambahkan, peringatan empat abad ini bukan sekadar agenda seremonial. Momentum ini justru harus dimanfaatkan untuk menjadikan nilai-nilai luhur yang diwariskan Sang Tuanta Salamaka sebagai inspirasi dalam membangun masyarakat yang berintegritas dan berkarakter.
Rektor UIM Al-Gazali, Prof. Muammar Bakry, menjelaskan bahwa simposium ini dirancang sebagai forum ilmiah untuk mengangkat relevansi pemikiran Syekh Yusuf dalam menjawab tantangan kekinian. Kehadiran Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dinilai selaras dengan tema yang diusung.
“Menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal dan keturunan, dan lain sebagainya, tanpa tanah tentu tidak bisa kita maksimal dalam mewujudkan aktivitas kita,” jelas Prof. Muammar.
Pernyataan itu menegaskan pentingnya menjaga tanah sebagai bagian dari amanah keagamaan, kebangsaan, dan peradaban. Sebuah pesan yang relevan di tengah isu tata ruang dan kepemilikan lahan di perkotaan.
Melalui simposium ini, Prof. Muammar berharap semangat perjuangan dan keteladanan Syekh Yusuf Al-Makassary terus menginspirasi lahirnya generasi yang berintegritas. Nilai-nilai yang diwariskan juga diharapkan menjadi landasan dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan ini menjadi salah satu bukti bahwa tokoh sejarah seperti Syekh Yusuf tidak hanya dikenang, tetapi juga dihadirkan kembali pemikirannya untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia, khususnya di Kota Makassar.