Harga Minyak Brent Naik ke US$72,3, Sentimen Pasokan dan Permintaan China Jadi Penentu Selanjutnya

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Selasa, 07 Juli 2026 | 09:49:01 WIB
Harga minyak Brent naik ke US$72,3 per barel dipengaruhi oleh sentimen pasokan dan permintaan China.

SULAWESI SELATAN — Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga ikut terdongkrak 0,26% ke US$68,84 per barel. Pergerakan ini menunjukkan investor perlahan meninggalkan premi risiko jangka pendek yang sempat melonjak akibat ketegangan di Timur Tengah.

Fokus Bergeser dari Gencatan Senjata ke Pasokan yang Mengalir

Pasar masih mencermati kelanjutan perundingan antara AS dan Iran, khususnya terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump kembali menekankan opsi kesepakatan atau aksi militer terhadap Iran setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar belum sepenuhnya percaya pada stabilitas gencatan senjata. "Pasar masih berhati-hati untuk terlalu percaya terhadap stabilitas gencatan senjata saat ini, mengingat hubungan AS-Iran yang kerap berubah-ubah," ujarnya.

Uni Emirat Arab Membanjiri Pasar, Produksi Tembus Rekor

Di sisi suplai, tekanan tambahan datang dari Uni Emirat Arab (UEA) yang meningkatkan produksi minyak mentah menjadi lebih dari 3,8 juta barel per hari pada Juni. Berdasarkan estimasi Reuters, angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2020 dan melampaui level produksi sebelum perang Iran vs AS.

UEA telah keluar dari kuota produksi OPEC+ pada Mei lalu. Langkah ini menambah pasokan global di saat OPEC+ sendiri telah sepakat menaikkan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus, setelah kenaikan serupa pada Juni dan Juli.

Arab Saudi Pangkas Harga Jual ke Asia, Isyaratkan Permintaan Lemah

Arab Saudi memangkas official selling price (OSP) minyak mentah Arab Light untuk pengiriman Agustus ke Asia menjadi US$1,50 per barel di bawah rata-rata harga Oman/Dubai. Pemangkasan sebesar US$11 ini merupakan yang terbesar dalam lebih dari dua dekade, menandakan produsen utama mulai merespons potensi kelebihan pasokan.

Menurut pernyataan harga Saudi Aramco yang dirilis Senin (6/7), langkah ini bertujuan untuk menjaga daya saing di pasar Asia yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia.

Data Permintaan China Jadi Kunci Arah Harga Selanjutnya

Waterer menambahkan, pasar sudah memperhitungkan banyak kabar positif dari sisi pasokan. "Kami akan mencermati tanda-tanda awal pemulihan permintaan, terutama dari China. Arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan bergantung pada apakah kondisi riil sesuai dengan optimisme yang berkembang," kata Waterer.

Investor kini menanti data impor minyak China dan indikator aktivitas manufaktur untuk mengonfirmasi pemulihan permintaan. Tanpa katalis permintaan yang kuat, kenaikan harga minyak berpotensi terbatas di tengah melimpahnya pasokan dari OPEC+ dan produsen non-OPEC.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top