7 Musim Terbaik Liburan ke Sulawesi Selatan Lengkap dengan Cuaca dan Tips Praktis

Penulis: Endra Sanjaya  •  Senin, 06 Juli 2026 | 00:13:31 WIB
Puncak kemarau Juni–Agustus di Sulawesi Selatan menawarkan langit cerah dan suhu nyaman untuk berbagai aktivitas wisata.

Orang Makassar punya pepatah lama: "Dua musim di sini — panas yang bikin keringatan, atau hujan yang bikin banjir di sudut kota." Sebagai perantau yang sudah lima tahun tinggal di Sulawesi Selatan, saya akui kebenarannya. Memilih waktu liburan ke sini bukan soal "kapan saja boleh", tapi soal strategi menghindari hujan deras yang bisa mengacaukan perjalanan ke Tana Toraja atau menyelami pasir putih di Pulau Pasi.

Berdasarkan data BMKG dan pengalaman puluhan kali bolak-balik dari Makassar ke Bulukumba, berikut tujuh periode yang paling pas untuk kamu yang mencari cuaca bersahabat. Setiap rekomendasi sudah saya uji langsung — dari macetnya Jalan Poros Maros karena banjir hingga angin kencang di Pantai Losari yang bikin nyaman duduk berlama-lama.

1. Juni–Agustus: Puncak Kemarau, Langit Cerah Sepanjang Hari

Ini jendela emas. Suhu rata-rata 24–32 derajat Celcius, kelembapan rendah, dan hampir tidak ada hujan. Saya merekomendasikan periode ini untuk ekspedisi ke Rammang-Rammang atau tracking di Malino.

Tapi ada catatan: angin timur cukup kencang di pesisir barat Makassar. Kalau kamu ingin naik kapal ke Pulau Samalona, pastikan cek jadwal pelayaran pagi hari. Angin kencang biasanya reda setelah pukul 10.00.

2. September–Oktober: Akhir Kemarau, Suhu Paling Nyaman

September 2025 lalu saya ke Bira. Air laut tenang, visibility snorkeling mencapai 15 meter. Suhu udara sedikit lebih sejuk karena transisi musim. Ini waktu favorit fotografer — langit biru tanpa awan tebal.

Harga penginapan di Tanjung Bira mulai Rp 250 ribu per malam untuk homestay sederhana. Tapi booking minimal dua minggu sebelumnya, karena September ramai wisatawan domestik.

3. November–Desember: Awal Musim Hujan, Cocok untuk City Tour

Hujan mulai turun November, biasanya deras sore hari. Tapi pagi hingga siang masih cerah. Saya sarankan periode ini untuk eksplorasi kuliner Makassar — dari Coto Nusantara di Jalan Nusantara sampai Pallubutung di Jalan Sultan Alauddin.

Tips: bawa jas hujan lipat. Hujan di Makassar tidak pernah lama, maksimal 2 jam. Setelah reda, udara jadi lebih segar dan jalanan sepi.

4. Januari–Februari: Puncak Hujan, Risiko Banjir di Beberapa Titik

Januari 2026 diprediksi BMKG curah hujan tinggi. Jalan Poros Maros–Makassar sering tergenang. Saya tidak merekomendasikan perjalanan darat jarak jauh seperti ke Toraja atau Palopo. Jalur Trans Sulawesi rawan longsor di beberapa titik.

Alternatif: nikmati staycation di hotel berbintang sekitar Pantai Losari. Banyak hotel menawarkan diskon 30–40% karena low season. Kamar dengan pemandangan laut bisa didapat Rp 400–600 ribu per malam.

5. Maret–April: Akhir Musim Hujan, Alam Mulai Hijau

Hujan mulai berkurang. Pemandangan perbukitan di Malino dan Lembah Ramma menghijau. Air terjun Takapala di Gowa debitnya penuh — pemandangan spektakuler.

Saya pernah ke sini pertengahan Maret 2025. Jalan menuju lokasi mulus, tapi agak licin setelah hujan. Gunakan sepatu anti-slip. Tiket masuk Rp 10 ribu per orang.

6. Mei: Transisi Kemarau, Cuaca Paling Tidak Menentu

Mei adalah bulan "tebak-tebakan". Pagi cerah, siang tiba-tiba hujan, sore kembali cerah. Cocok untuk wisata budaya seperti mengunjungi Benteng Rotterdam atau Masjid 99 Kubah.

Pakai pakaian yang mudah kering. Hindari bahan jeans tebal. Saya biasanya pakai celana cargo bahan parasut — cepat kering kalau kehujanan.

7. Juli–Agustus (Khusus Toraja): Musim Rambu Solo'

Di Tana Toraja, Juli hingga Agustus adalah puncak upacara pemakaman adat Rambu Solo'. Cuaca cerah mendukung prosesi yang bisa berlangsung berhari-hari. Ini pengalaman budaya yang tidak ditemukan di tempat lain.

Tapi siapkan mental: jumlah wisatawan melonjak 2–3 kali lipat. Harga tiket pesawat ke Makassar dari Jakarta bisa mencapai Rp 1,5 juta sekali jalan. Akomodasi di Rantepao perlu booking sebulan sebelumnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan musim kemarau di Sulawesi Selatan?
Mei hingga Oktober. Puncaknya Juni–Agustus dengan curah hujan di bawah 50 mm per bulan.

Apakah aman liburan ke Sulawesi Selatan saat musim hujan?
Aman, asal hindari perjalanan darat jarak jauh Januari–Februari. Fokus pada city tour atau wisata kuliner di Makassar.

Berapa suhu rata-rata di Sulawesi Selatan?
23–33 derajat Celcius sepanjang tahun. Kelembapan tinggi, jadi terasa lebih panas dari angka sebenarnya.

Destinasi mana yang paling terpengaruh cuaca?
Tana Toraja dan Bira. Jalan menuju Toraja rawan longsor saat hujan deras. Bira ombak besar saat angin timur (Juni–Agustus).

Kapan waktu terbaik untuk snorkeling di Pulau Pasi?
September–Oktober. Air tenang, visibility jernih, tidak ada ubur-ubur.

Cuaca memang faktor utama, tapi bukan satu-satunya penentu liburan menyenangkan. Sulawesi Selatan punya daya tarik yang tetap bersinar — entah di bawah terik atau rintik hujan. Yang penting, tahu kapan harus ke mana dan bawa perlengkapan yang tepat. Selamat merencanakan perjalananmu.

Reporter: Endra Sanjaya
Back to top