Headphone Ternyata Sudah Ada Sejak Era 1960-an, Begini Bentuknya

Penulis: Chandra Kusuma  •  Minggu, 05 Juli 2026 | 10:13:31 WIB
Headphone era 1960-an menampilkan desain sederhana dengan bantalan kuping besar dan busur logam tipis.

SULAWESI SELATAN — Banyak yang mengira headphone adalah inovasi akhir abad ke-20, padahal perangkat ini sudah eksis sejak tahun 1960-an. Bentuknya kala itu masih sangat sederhana: dua bantalan kuping besar yang disambung dengan busur logam tipis, mirip stetoskop versi raksasa. Fungsinya pun sama seperti sekarang, yaitu mengalirkan suara langsung ke telinga tanpa mengganggu orang di sekitar.

Desain Vintage yang Ikonik

Headphone era 1960-an umumnya menggunakan bahan plastik keras dan busa tipis pada bagian earcup. Kabelnya tebal dan tidak bisa dilepas, serta jack yang digunakan masih berukuran 6,35 mm — bukan 3,5 mm seperti yang lazim di ponsel dan laptop saat ini. Beberapa model bahkan tidak memiliki bantalan kepala (headband) yang empuk, hanya logam polos yang langsung menyentuh ubun-ubun.

Walaupun tampak jadul, prinsip kerja dasarnya persis dengan headphone modern: driver elektrodinamik yang mengubah sinyal listrik menjadi gelombang suara. Bedanya, teknologi magnet dan diafragma kala itu belum seefisien sekarang, sehingga ukuran driver cenderung lebih besar dan bobot perangkat lebih berat.

Evolusi Material dan Kenyamanan

Dari segi kenyamanan, headphone 1960-an jelas kalah jauh dibanding produk terkini. Bobotnya bisa mencapai 400-500 gram — hampir dua kali lipat headphone nirkabel premium masa kini yang rata-rata 250 gram. Bantalan telinga juga tidak menggunakan memory foam atau kulit sintetis, melainkan busa biasa yang cepat kempis dan panas.

Namun dari segi ketahanan, headphone lawas ini punya keunggulan. Komponennya sebagian besar mekanis dan mudah diperbaiki. Tidak ada baterai litium yang menua, tidak ada sirkuit digital yang rusak karena benturan. Ini yang membuat banyak kolektor audio masih memburu model-model vintage untuk direstorasi.

Relevansi untuk Pembeli Headphone Masa Kini

Bagi konsumen Indonesia yang sedang mencari headphone baru, pelajaran dari sejarah ini cukup sederhana: teknologi audio dasar sudah matang sejak puluhan tahun lalu. Perbedaan utama antara headphone Rp 200 ribuan dengan yang Rp 2 jutaan saat ini lebih banyak terletak pada kenyamanan, fitur nirkabel, dan kualitas bahan — bukan pada kemampuan dasar mengeluarkan suara.

Jika Anda tipe pendengar yang mementingkan durabilitas dan suara natural tanpa embel-embel aplikasi, headphone wired klasik dengan desain sederhana bisa jadi pilihan cerdas. Sebaliknya, jika mobilitas dan konektivitas adalah prioritas, model nirkabel modern jelas lebih unggul. Keduanya sama-sama mewarisi DNA dari headphone era 1960-an yang menjadi cikal bakal industri audio pribadi.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: bgr.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top