SIDRAP — Nama Dirayanti kini menjadi buah bibir di kalangan akademisi Sulawesi Selatan. Ia lolos seleksi beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi Ph.D bidang Chemical Engineering di UCL, kampus yang konsisten masuk jajaran universitas terbaik global. Jika tak ada perubahan, ia dijadwalkan memulai perkuliahan pada Oktober 2026.
Pencapaian ini tidak instan. Dirayanti mengawali pendidikan tingginya di Jurusan Kimia Universitas Hasanuddin pada 2016 dan lulus pada 2020. Dua tahun berselang, ia kembali meraih beasiswa penuh untuk magister di Kasetsart University, Thailand, mengambil program Sustainable Energy and Resources Engineering dan menyelesaikannya pada 2023.
Selama 2024 hingga 2025, Dirayanti terus mematangkan diri. Ia menyusun proposal riset, memperkuat publikasi ilmiah, dan menjaring koneksi akademik di luar negeri. Semua itu dilakukan sembari bekerja sebagai pengajar di salah satu universitas di Makassar.
Ketekunannya membuahkan hasil. LPDP menetapkannya sebagai penerima beasiswa doktoral untuk studi di Inggris. Bidang yang akan ia tekuni — teknik kimia berfokus pada energi berkelanjutan — dinilai strategis bagi kebutuhan riset energi nasional.
Kedua orang tua Dirayanti tak bisa menyembunyikan rasa haru. Di tengah kebanggaan itu, mereka menitipkan pesan yang jarang terucap dari orang tua mahasiswa penerima beasiswa luar negeri.
"Pendidikan tinggi bukan sekadar soal gelar atau prestise, melainkan amanah yang suatu hari harus kembali memberikan manfaat bagi bangsa dan negara," ujar orang tua Dirayanti dalam pernyataan yang diterima redaksi.
Mereka berharap ilmu yang diperoleh putrinya di Inggris kelak bisa melahirkan inovasi di bidang energi dan sains untuk Indonesia. Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa beasiswa negara bukanlah hadiah, melainkan investasi jangka panjang.
Kisah Dirayanti menjadi contoh nyata bahwa latar belakang daerah bukanlah tembok pembatas. Ia memulai dari ruang kuliah di Makassar, melangkah ke Thailand, dan kini bersiap menuju London. Setiap tahap ditempuh dengan beasiswa — tanpa membebani orang tua.
Bagi generasi muda Sidrap dan Sulawesi Selatan pada umumnya, perjalanan Dirayanti adalah bukti bahwa mimpi besar bisa berawal dari mana saja. Termasuk dari kabupaten yang namanya mungkin asing di telinga rekruter kampus dunia.
Program doktoral yang akan ia tempuh berfokus pada Chemical Engineering dengan konsentrasi energi berkelanjutan. Riset ini relevan dengan kebutuhan Indonesia dalam mengembangkan sumber energi alternatif dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Perkuliahan direncanakan dimulai pada Oktober 2026. Sebelum berangkat, ia masih harus menyelesaikan sejumlah administrasi keberangkatan dan persiapan akademik awal yang diminta pihak UCL.
Dirayanti berharap pencapaiannya bisa memotivasi anak-anak muda di daerah untuk tidak takut bermimpi besar. "Lahir dan tumbuh di daerah bukanlah penghalang untuk bersaing di tingkat internasional," demikian pesan yang ia sampaikan melalui orang tuanya.