Forum Bincang Ekonomi Daerah Sulsel Bahas Kopi sebagai Penggerak Pembangunan, Tiga Narasumber dari Akademisi hingga Praktisi

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 19:44:01 WIB
Forum Bincang Ekonomi Daerah Sulsel membahas kopi sebagai penggerak pembangunan ekonomi lokal.

MAKASSAR — Kopi tak lagi dipandang sekadar komoditas perkebunan, melainkan instrumen pembangunan yang mampu menggerakkan sektor usaha mikro, investasi, hingga pariwisata. Atas dasar itu, Unhas Development Study Club (UDSC) Class 2025 menggelar forum diskusi bertajuk "Bincang Ekonomi Daerah: Kebijakan UMKM Berbasis Komoditas, Peluang Investasi Kopi serta Kolaborasi untuk Penguatan Ekonomi Daerah" di Dey Corner Café, Makassar, Jumat (3/7/2026).

Diskusi yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WITA ini menjadi ruang dialog antara akademisi, pelaku usaha, dan praktisi untuk membahas bagaimana kopi dapat menjadi penggerak pembangunan melalui perspektif ekonomi regional, hilirisasi, dan kebijakan publik.

Luas Kebun Kopi Sulsel Capai 78.754 Hektare

Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar dunia. Namun, sebagian besar nilai tambah masih berada pada aktivitas pascapanen, pengolahan, branding, dan pemasaran yang belum optimal di berbagai daerah.

Di Sulawesi Selatan, kopi telah lama menjadi komoditas unggulan. Data menunjukkan luas perkebunan kopi rakyat mencapai 78.754 hektare, atau sekitar 14,4 persen dari total luas perkebunan rakyat di provinsi tersebut. Produksi kopi Sulawesi Selatan pada 2024 mencapai sekitar 21.388 ton, terdiri atas kopi Arabika dan Robusta.

Sentra produksi utama tersebar di Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Sinjai, dan Bantaeng. Kopi menjadi komoditas perkebunan terbesar ketiga setelah kakao dan kelapa.

Tiga Narasumber dengan Perspektif Berbeda

Forum ini menghadirkan tiga narasumber yang saling melengkapi. Pertama, Wiwik E. Wijaya, Plt Kadis Perindag Sulsel, yang diharapkan berbagi perspektif kebijakan pembangunan daerah, termasuk strategi membangun daya saing produk kopi agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Kedua, Prof. Dr. Mursalim Nohong, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Sebagai akademisi, ia akan mengulas bagaimana kebijakan ekonomi regional dapat mendorong hilirisasi kopi dan memperkuat UMKM berbasis potensi lokal.

Ketiga, M. Faizal "Ical" R., praktisi bisnis kopi yang saat ini aktif mendorong kolaborasi Unhas dengan Pemerintah Situbondo dalam adopsi inovasi teknologi pengeringan kopi. Ia akan membagikan pengalaman mengenai perkembangan bisnis kopi, perubahan perilaku konsumen, hingga peluang kolaborasi antara petani dan sektor swasta.

Diskusi Kolaboratif, Bukan Seminar Satu Arah

Forum ini menggunakan pendekatan interactive panel discussion, yaitu dialog yang menggabungkan presentasi singkat dari masing-masing narasumber, diskusi panel, serta sesi tanya jawab bersama peserta. Pendekatan ini memungkinkan pertukaran gagasan langsung antara akademisi, praktisi, mahasiswa, pemerintah, komunitas kopi, dan pelaku UMKM.

Diskusi dipandu oleh Kamaruddin Azis, mahasiswa founder Pelakita.ID, yang memiliki pengalaman dalam komunikasi pembangunan dan kebijakan publik. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan peluang kolaborasi yang dapat ditindaklanjuti dalam pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: pelakita.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top