SULAWESI SELATAN — Mulai pekan ini, pengguna layanan streaming di California tidak akan lagi dikejutkan oleh iklan yang tiba-tiba meledak di sela-sela tontonan. Undang-undang negara bagian yang baru berlaku mewajibkan platform streaming menjaga level volume iklan tidak melebihi konten video yang menyertainya.
Regulasi ini menutup celah yang selama ini belum terjangkau aturan serupa untuk televisi konvensional. Sebelumnya, batasan volume iklan hanya berlaku untuk siaran TV dan kabel.
Hingga saat ini, belum ada layanan streaming yang mengumumkan secara detail langkah teknis yang mereka ambil untuk mematuhi aturan ini, seperti dicatat oleh Ars Technica. Meski kewajiban hanya berlaku di California, perubahan sistem volume kemungkinan besar akan diterapkan secara global.
Pasalnya, menyesuaikan volume hanya untuk satu wilayah secara teknis lebih rumit dibanding menerapkan standar seragam di semua pasar. Illinois sendiri sudah menjadwalkan pemberlakuan undang-undang serupa tahun depan.
Ide aturan ini muncul dari pengalaman paling membosankan orang tua. Senator Negara Bagian California Thomas Umberg, sponsor undang-undang yang disahkan pada 2025, menyebut inspirasi regulasi ini berasal dari orang tua yang kelelahan setelah berhasil menidurkan bayi, lalu iklan streaming yang keras membuyarkan semuanya.
"Setiap orang tua yang kelelahan yang akhirnya berhasil menidurkan bayi, hanya untuk kemudian iklan streaming yang keras membatalkan semua kerja keras itu," kata Umberg dalam pernyataannya saat undang-undang disahkan.
Kelompok industri seperti Motion Picture Association of America dan Streaming Innovation Alliance sebelumnya menentang rancangan undang-undang ini. Mereka mengklaim para penyedia layanan streaming sudah berupaya mengatasi masalah volume iklan secara sukarela.
Argumen utama mereka: platform streaming harus menangani beragam perangkat keluaran — dari TV, tablet, hingga ponsel — yang masing-masing memiliki karakteristik volume berbeda. Standarisasi volume di semua perangkat, menurut mereka, bukanlah perkara sederhana.
Bagi pengguna streaming di Indonesia, aturan ini tetap relevan. Jika platform seperti Netflix, Disney+, atau YouTube TV menerapkan perubahan volume secara global, pengalaman menonton di sini juga akan ikut terdampak positif — iklan tidak lagi tiba-tiba memekik di telinga.
Belum ada kepastian kapan perubahan ini benar-benar terasa. Yang jelas, tekanan regulasi di dua negara bagian paling padat penduduk di AS — California dan Illinois — cukup kuat untuk mendorong perubahan sistemik di industri streaming.