MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengintensifkan sosialisasi tarif khusus Bus Trans Sulsel bagi pelajar, mahasiswa, lansia, dan penyandang disabilitas. Kelompok tersebut cukup membayar Rp 2.000 per perjalanan, jauh lebih murah dibanding tarif umum Rp 4.600.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan Andi Erwin Terwo menjelaskan, kebijakan ini menyasar kelompok rentan yang membutuhkan dukungan mobilitas. Mereka adalah pelajar, mahasiswa, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Kebijakan tarif khusus merupakan upaya memperluas akses layanan transportasi publik yang terjangkau bagi kelompok rentan dan masyarakat yang membutuhkan dukungan mobilitas,” kata Andi Erwin di Makassar, Kamis.
Calon pengguna harus melalui proses verifikasi data dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga. Layanan verifikasi dibuka di sejumlah titik strategis.
Dinas Perhubungan juga bekerja sama dengan Bank Sulselbar untuk menyediakan layanan isi ulang kartu pembayaran elektronik. Sosialisasi sistem pembayaran non tunai ini melibatkan perangkat kecamatan hingga pemerintah desa, khususnya di Kabupaten Takalar yang menjadi salah satu wilayah layanan Trans Sulsel.
Meski tarif khusus sudah berlaku, masih ada sejumlah tantangan. Andi Erwin mengakui keterbatasan lokasi pengisian ulang kartu pembayaran elektronik menjadi kendala utama. Selain itu, kemacetan pada sejumlah ruas jalan berdampak terhadap jadwal penjemputan penumpang.
Dalam satu tahun pengelolaan oleh Pemprov Sulsel, Bus Trans Sulsel telah mengangkut 1,15 juta penumpang. Angka ini menjadi indikator tumbuhnya minat masyarakat terhadap angkutan massal sebagai pilihan mobilitas harian.
“Hasil pengamatan kami menunjukkan beberapa koridor, khususnya Koridor CPI, hampir selalu dipenuhi penumpang pada setiap perjalanan. Ini menjadi sinyal positif bahwa layanan Trans Sulsel semakin diminati masyarakat,” ujar Andi Erwin.
Saat ini, Trans Sulsel mengoperasikan 37 unit bus yang melayani tiga koridor: Koridor 1, Koridor 2, dan Koridor 5. Pemprov Sulsel berkomitmen menyediakan layanan transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Pemprov Sulsel terus mengevaluasi kebutuhan pengembangan layanan. Prioritasnya meliputi peningkatan kualitas armada, penguatan integrasi antarkoridor, serta perluasan jangkauan layanan ke kawasan dengan mobilitas masyarakat yang terus bertumbuh.
Andi Erwin menilai potensi peningkatan jumlah pengguna masih terbuka lebar seiring kesadaran masyarakat untuk beralih ke transportasi publik. Biaya perjalanan yang lebih terjangkau dibandingkan kendaraan pribadi menjadi faktor utama pendorong.
Ya, tarif Rp 2.000 berlaku untuk semua koridor yang melayani pelajar, mahasiswa, lansia, dan penyandang disabilitas. Namun, pengguna wajib memiliki kartu yang sudah terverifikasi dan melakukan isi ulang di titik-titik yang telah ditentukan.
Layanan isi ulang tersedia di Bank Sulselbar, Mall Panakkukang, Universitas Hasanuddin, terminal, dan sejumlah kantor desa di Kabupaten Takalar. Dinas Perhubungan berencana menambah titik isi ulang untuk mengatasi keterbatasan yang ada.
Sosialisasi masih berlangsung secara bertahap, melibatkan perangkat kecamatan dan desa. Tidak ada batas waktu pasti, namun Pemprov Sulsel menargetkan seluruh calon pengguna di wilayah layanan Trans Sulsel sudah terverifikasi dalam beberapa bulan ke depan.