MAKASSAR — Surat diskresi yang ditandatangani langsung Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menjadi tiket bagi Ilham Arief Sirajuddin untuk melenggang ke arena Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulawesi Selatan. Dokumen itu mengatasi kendala administratif masa keanggotaan IAS yang sempat menjadi ganjalan pencalonannya.
Dalam seremoni penyerahan yang digelar di Jakarta, Bahlil memberikan pesan spesifik kepada IAS yang akrab disapa Kak Aco. Ia meminta mantan wali kota itu tidak hanya sekadar maju, tetapi juga merangkul seluruh elemen partai untuk mengembalikan kejayaan Golkar di Sulsel.
“Kembalikan marwah dan kebesaran Partai Golkar dengan menghimpun seluruh kekuatan tokoh-tokoh dan kader dalam rangka perbaikan partai ke depan,” ujar Bahlil dalam keterangan yang diterima redaksi. Ia juga menyematkan target konkret: peningkatan perolehan kursi pada pemilu mendatang.
“Dengan target Kak Aco, naik kursi Kak Aco. Itu yang paling penting,” tegas ketua umum partai berlambang pohon beringin itu.
Menanggapi amanah tersebut, IAS menyatakan komitmennya untuk menjalankan instruksi partai. Ia berjanji akan bekerja maksimal dan menambah kursi Golkar di Sulsel.
“Terima kasih Ketua Umum. Insya Allah apa yang disampaikan menjadi komitmen saya. Saya tegak lurus terhadap kebijakan partai dan akan memaksimalkan seluruh potensi yang ada untuk menambah kursi Partai Golkar di Sulawesi Selatan,” kata IAS.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa IAS tidak hanya mengincar posisi pimpinan, tetapi juga siap menjadi motor penggerak mesin partai di lima tahun ke depan.
Meski surat diskresi sudah di tangan, proses pencalonan IAS belum sepenuhnya mulus. Politisi senior Golkar Sulsel, Nurdin Halid, mengingatkan bahwa aturan organisasi tetap berlaku. Surat diskresi hanya melonggarkan syarat masa keanggotaan, bukan menggugurkan kewajiban mengumpulkan dukungan.
“Diskresi itu memperkenankan Pak IAS maju sebagai calon ketua karena sebelumnya terkendala syarat masa keanggotaan setelah kembali ke Partai Golkar. Tetapi sesuai PO dan Juklak, calon tetap harus mendapatkan minimal 30 persen dukungan dari pemilik suara,” ujar Nurdin.
Ia menambahkan, IAS tetap perlu melakukan komunikasi politik dan sosialisasi ke DPD II di kabupaten/kota untuk mengamankan dukungan yang dibutuhkan. Meski begitu, Nurdin menilai pemberian diskresi ini merupakan indikasi kuat restu dari ketua umum.
“Kalau saya lihat dengan diskresi yang diberikan, itu menjadi tanda bahwa secara tidak langsung Ketua Umum setuju Pak Ilham menjadi Ketua Golkar Sulsel,” ucapnya.
Sementara itu, Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel Muhidin M. Said membenarkan bahwa IAS telah mengantongi diskresi. Namun, ia menyebut detail pelaksanaan Musda masih dalam tahap koordinasi dengan DPP.
“Sementara kita atur dulu jadwalnya,” kata Muhidin. Ia juga mengungkapkan bahwa aspek teknis seperti lokasi pelaksanaan di Makassar masih dimatangkan. “Tempat harus kita konfirmasi juga. Tidak bisa sembarang, harus mencari lokasi yang representatif dan tersedia,” jelasnya.
Musda DPD I Golkar Sulsel yang dijadwalkan pada awal Juli 2026 akan menjadi ajang penentu kepemimpinan partai untuk lima tahun ke depan sekaligus konsolidasi menghadapi agenda politik berikutnya. Dengan masuknya IAS ke panggung utama, persaingan dipastikan kian sengit.