Bunda Literasi Enrekang Apresiasi 50 Anak SD yang Ikut Lomba Bertutur, Ini Misi Besar di Balik Panggung Cerita

Penulis: Endra Sanjaya  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 19:38:01 WIB
Bunda Literasi Enrekang memberikan apresiasi kepada 50 anak SD peserta lomba bertutur.

ENREKANG — Suara anak-anak mengisi ruang kegiatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang pada Senin lalu. Mereka tidak sekadar membaca teks atau bermain. Puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar itu datang membawa cerita, pesan, dan harapan agar budaya literasi tetap tumbuh di generasi yang akrab dengan gawai.

Bukan Sekadar Lomba Bercerita Biasa

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, Andi Ridwan, mengatakan lomba ini merupakan bagian dari pengembangan budaya literasi di kalangan pelajar. Cerita rakyat, cerita daerah, dan kisah inspiratif yang mengandung nilai pendidikan serta karakter bangsa menjadi materi utama yang dibawakan peserta.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pengembangan budaya literasi di kalangan pelajar melalui pengenalan cerita rakyat, cerita daerah dan cerita inspiratif yang mengandung nilai pendidikan, moral serta karakter bangsa,” ujarnya.

Menurut Andi Ridwan, kemampuan bertutur bukan hanya soal membaca. Anak-anak juga belajar bagaimana menyampaikan ide dan pesan secara baik di depan umum.

Bunda Literasi: Keberanian Tampil Sudah Jadi Prestasi

Bunda Literasi Kabupaten Enrekang, Hj. Ratnawati Yusuf Ritangnga, yang membuka acara secara resmi, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta. Ia menekankan bahwa lomba ini bukan ajang mengejar gelar juara semata.

“Lomba bertutur ini bukan sekadar acara untuk mencari juara. Tetapi lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan melatih keberanian tampil di depan umum,” katanya.

Ratnawati menilai, melalui kegiatan seperti ini, anak-anak belajar memahami isi cerita, menangkap nilai moral, hingga menyampaikan pesan secara kreatif. Ia mengaku bangga melihat keberanian para peserta yang berdiri di panggung.

“Kalian semua adalah anak-anak hebat yang telah menunjukkan keberanian untuk tampil dan berbagi cerita di hadapan banyak orang,” ujarnya memberi semangat.

Pesan untuk Guru dan Orang Tua

Bunda Literasi Enrekang juga berpesan agar peserta mengikuti lomba dengan percaya diri dan menjunjung sportivitas. Ia menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar untuk berkembang, bukan sekadar kompetisi.

Kepada para guru dan orang tua, Ratnawati menyampaikan penghargaan atas dukungan dan pendampingan yang diberikan. Sebab di balik anak yang berani tampil, ada proses panjang membaca, berlatih, dan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.

“Budaya membaca tidak berhenti pada kegiatan lomba saja. Semoga kegiatan ini berkembang menjadi kebiasaan memahami, menghayati, dan menyampaikan informasi secara baik dan benar,” ungkapnya.

Di Enrekang, panggung lomba bertutur tahun ini menjadi ruang kecil untuk menjaga budaya besar: membaca, berpikir, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: katasulsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top