SULAWESI SELATAN — Polemik pemasangan baliho ucapan selamat ulang tahun untuk Jokowi di Kota Solo memasuki babak baru. Respati, yang juga kader Gerindra, langsung mengakui kesalahannya saat diminta menanggapi pernyataan Ketua DPC Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno, pada Selasa (23/6).
Respati menjelaskan baliho itu merupakan bentuk apresiasi Pemkot Solo terhadap Jokowi. Menurutnya, Jokowi membawa perubahan besar selama menjabat Wali Kota Solo periode 2005-2012. Ia juga menyebut Kota Solo masih merasakan berkah dari sosok Jokowi hingga hari ini.
"Masalah dari Pak Ketua (Ardianto) kemarin, pokoknya (saya) salah. Siap salah," jawab Respati singkat.
Ardianto Kuswinarno sebelumnya mengaku kecewa baliho ucapan ulang tahun dari Pemkot Solo hanya diberikan kepada Jokowi. Ia menyoroti ketimpangan perlakuan karena tidak ada ucapan serupa untuk Presiden Prabowo Subianto, meskipun Respati adalah kader Gerindra.
"Kenapa ketika Pak Prabowo kok tidak ada ucapan? Ini membuat saya juga agak kecewa sedikit dengan apa yang diberikan Mas Wali kepada Pak Jokowi, tetapi kenapa Pak Prabowo tidak ada. Padahal beliau juga menjadi kader Gerindra," kata Ardianto di Gedung DPRD Solo, Senin (22/6).
Persoalan ini menyoroti dilema politik lokal di Solo. Di satu sisi, Jokowi adalah mantan kepala daerah yang dianggap berjasa besar. Di sisi lain, Prabowo adalah presiden petahana dan ketua umum partai tempat Respati bernaung. Ketegangan muncul ketika apresiasi untuk figur historis dianggap mengabaikan loyalitas kepada pimpinan partai.
Pemasangan baliho oleh pemerintah kota untuk mantan pemimpin daerah merupakan praktik umum. Namun, dalam konteks politik saat ini, tindakan itu dinilai kurang peka terhadap hierarki partai, terutama oleh kader yang merasa pimpinan partainya tidak mendapat tempat serupa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari DPP Gerindra maupun dari Istana Negara terkait polemik yang berkembang di Solo. Respati sendiri memilih tidak memperpanjang persoalan dengan pernyataan "siap salah" yang menandakan ia ingin segera meredam ketegangan di internal partai.