MAKASSAR — Perum Bulog Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) mencatatkan stok beras mencapai 895 ribu ton per 11 Mei 2026. Untuk menjaga ketersediaan pangan, perusahaan pelat merah itu terus memperluas kapasitas penyimpanan melalui sewa gudang dan kerja sama dengan mitra.
Wakil Pimpinan Perum Bulog Sulselbar, Karmila Hasmin, mengungkapkan kapasitas gudang milik Bulog yang tersedia saat ini mencapai 364 ribu ton. Sementara itu, kapasitas tambahan dari gudang kerja sama, sewa, dan mitra mencapai sekitar 600 ribu ton.
“Bulog terus melakukan pencarian gudang, yaitu dengan cara sewa gudang atau kerja sama dengan mitra yang tadi bekerja sama kita yang di pengadaan gabah beras. Itu sistemnya sewa, ada pinjam pakai, maupun jasa pergudangan,” ujar Karmila usai perayaan HUT Bulog ke-59 di Kantor Bulog Sulselbar, Makassar, Senin (11/5/2026).
Karmila menjelaskan, gudang Bulog Sulselbar tersebar di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan. Lokasinya meliputi Makassar, Maros, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Parepare, hingga Sidrap yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras.
Distribusi gudang di titik-titik strategis ini memudahkan Bulog menyerap hasil panen petani dan memperlancar distribusi ke pasar.
Meski kapasitas penyimpanan sudah hampir mencapai 1 juta ton, Bulog belum berhenti berekspansi. Karmila menyebut penambahan gudang baru masih akan terus dilakukan ke depan.
“Nantinya akan ada penambahan gudang-gudang Bulog. Itu dalam proses di kantor pusat, kami belum bisa memberikan datanya saat ini berapa pastinya,” katanya.
Stok beras yang besar tak lantas membuat Bulog mengabaikan mutu. Karmila memastikan kualitas beras tetap terjaga melalui perawatan rutin.
“Per 3 bulannya kita melakukan yang namanya fumigasi. Dengan pola ini kualitas beras terus terjaga,” pungkas Karmila.
Langkah ini menjadi penting mengingat beras yang disimpan dalam jangka panjang rentan terhadap hama gudang dan penurunan kualitas.