Rumah Hijau Denassa di Kabupaten Gowa menawarkan pengalaman belajar lingkungan yang dipadukan dengan kearifan lokal Sulawesi Selatan. Terdapat tiga aspek utama yang menjadikan kawasan ini sebagai rujukan edukasi, mulai dari konservasi tanaman langka hingga penguatan literasi budaya.
GOWA — Rumah Hijau Denassa (RHD) yang terletak di Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, terus memperkuat perannya sebagai pusat edukasi lingkungan. Kawasan ini mengintegrasikan upaya konservasi keanekaragaman hayati dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal masyarakat Sulawesi Selatan.
Pendiri Rumah Hijau Denassa, Darmawan Denassa, merintis area ini untuk menyelamatkan berbagai jenis tanaman langka dan endemik. Kini, lokasi tersebut menjadi rujukan bagi pelajar, mahasiswa, hingga peneliti yang ingin mempelajari hubungan antara alam dan tradisi lokal secara langsung di lapangan.
Di lahan hijau ini, pengunjung dapat menemukan ratusan hingga ribuan spesies tanaman yang dikelola secara mandiri. Fokus utama koleksi di Rumah Hijau Denassa adalah tanaman yang memiliki keterkaitan erat dengan filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar, termasuk pohon-pohon yang mulai sulit ditemukan di hutan terbuka.
Upaya konservasi ini bertujuan memastikan generasi mendatang tetap mengenal flora asli daerah. Selain menjadi paru-paru hijau bagi wilayah Gowa, area ini berfungsi sebagai laboratorium alam bagi sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan yang ingin menerapkan kurikulum berbasis lingkungan.
Rumah Hijau Denassa tidak hanya fokus pada penghijauan. Tempat ini secara rutin menggelar kegiatan literasi dan pengenalan budaya, seperti permainan tradisional serta penggunaan bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari di kawasan tersebut untuk menjaga identitas lokal.
Pengelola menghidupkan kembali kearifan lokal yang relevan dengan pelestarian alam sekitar. Melalui pendekatan ini, pengunjung diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Sulawesi Selatan yang sudah diwariskan turun-temurun.
Kawasan ini menyediakan ruang terbuka yang representatif untuk kegiatan belajar mengajar di luar kelas. Banyak lembaga pendidikan memanfaatkan Rumah Hijau Denassa sebagai lokasi studi banding untuk mempelajari metode konservasi berbasis masyarakat dan pengelolaan bank benih tanaman lokal.
Pihak pengelola juga aktif mendokumentasikan pengetahuan tradisional terkait penggunaan tanaman untuk pengobatan dan kebutuhan adat. Dokumentasi ini menjadi sumber data penting bagi peneliti yang ingin mendalami etnobotani di wilayah Sulawesi Selatan.
Kegiatan utama meliputi pengenalan jenis pohon, praktik menanam, hingga diskusi mengenai literasi budaya Makassar. Pelajar biasanya diajak berkeliling area untuk mengidentifikasi tanaman endemik dan mempelajari manfaatnya bagi ekosistem maupun kehidupan sehari-hari.
Rumah Hijau Denassa terbuka untuk umum, mulai dari kelompok sekolah, komunitas lingkungan, hingga wisatawan individu. Pengelola menyarankan pengunjung untuk melakukan koordinasi terlebih dahulu, terutama bagi rombongan besar yang memerlukan pemandu edukasi khusus selama kunjungan.
Kawasan edukasi ini berada di Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Lokasinya dapat dijangkau dari pusat Kota Makassar dengan waktu tempuh sekitar 45 hingga 60 menit menggunakan kendaraan bermotor melalui jalur darat yang sudah terakses baik.