Pencarian

ICMI Sulsel Canangkan 11 Pelajaran Strategis Menuju Indonesia Emas 2045, Akademisi Diminta Turun dari Menara Gading

Senin, 08 Juni 2026 • 12:13:31 WIB
ICMI Sulsel Canangkan 11 Pelajaran Strategis Menuju Indonesia Emas 2045, Akademisi Diminta Turun dari Menara Gading
Forum ICMI Sulsel rumuskan 11 pelajaran strategis untuk mendukung Indonesia Emas 2045.

MAKASSAR — Sebanyak 11 pelajaran strategis dirumuskan dalam forum Silaturahmi Wilayah (Silakwil) dan pelantikan pengurus CIDES ICMI Sulsel yang berlangsung di Rumah Jabatan Rektor UNM. Forum yang menghadirkan Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN Prof. Arif Satria, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, Ketua ICMI Sulsel Prof. Aris Munandar, dan Plt Rektor UNM Prof. Farida Patittingi itu menjadi ruang refleksi masa depan Indonesia.

Pesan paling mendasar dari forum tersebut adalah seruan agar kaum intelektual tidak lagi sekadar menjadi pengamat, melainkan harus menjadi pencipta perubahan. "Masa depan tidak ditunggu, tetapi diciptakan," tegas Prof. Arif Satria mengutip futuris Alan Kay.

Inovasi Besar Lahir dari Masalah Nyata

Prof. Arif memberikan contoh nyata tentang seorang ilmuwan keturunan Palestina yang hidup di kamp pengungsian di Yordania. Berhadapan dengan persoalan kekurangan air yang kronis, ilmuwan itu berhasil mengembangkan teknologi untuk "memanen air dari udara".

"Kalau dulu manusia memanen padi dari tanah, jagung dari tanah, ikan dari laut, sekarang manusia mulai memanen dari udara," ujar Prof. Arif. Kisah ini menegaskan bahwa inovasi paling berdampak lahir dari kedekatan dengan penderitaan manusia, bukan dari ruang yang terisolasi.

Akademisi Harus Keluar dari Rutinitas Birokrasi

Ketua ICMI Sulsel Prof. Aris Munandar menyoroti tantangan yang dihadapi akademisi saat ini. Tuntutan administrasi, beban publikasi ilmiah, dan rutinitas birokrasi dinilai kerap menjauhkan ilmuwan dari ruang publik.

"Melalui CIDES, kita ingin keluar dari menara gading. Kita ingin menghadirkan pemikiran yang relevan dan solutif bagi persoalan masyarakat," tegas Prof. Aris. CIDES diposisikan sebagai "dapur gagasan" yang menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Dari Saudagar Menjadi Industriwan

Guru Besar Fisika FMIPA Unhas Prof. Tasrif Surungan mengemukakan gagasan transformasi masyarakat Bugis-Makassar dari saudagar menjadi industriwan. Menurutnya, nilai tambah terbesar saat ini lahir dari inovasi, manufaktur, teknologi, dan industri berbasis pengetahuan.

Salah satu contoh nyata adalah langkah Yayasan Wakaf UMI yang telah memesan ambulans listrik dan bus listrik hasil karya peneliti internal. Riset di perguruan tinggi langsung diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi dan manfaat sosial.

Forum tersebut juga menyinggung era personalisasi dan presisi yang tengah berlangsung di dunia. Di sektor pertanian, teknologi kini memungkinkan kebutuhan pupuk dan nutrisi dihitung secara spesifik untuk setiap tanaman. Di dunia kesehatan, pendekatan genomik memungkinkan pengobatan disesuaikan dengan karakter genetik setiap individu. Pendekatan seragam dinilai tidak lagi memadai di masa depan.

Bagikan
Sumber: pelakita.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks