Inflasi Beras Oktober Nyaris Nihil 0,08%, Bapanas Salurkan 161 Ribu Ton CBP

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Jumat, 06 November 2026 | 15:07:31 WIB
Inflasi beras bulanan Oktober tercatat 0,08 persen, turun dari 0,80 persen pada September.

SULAWESI SELATAN — Inflasi beras bulanan pada Oktober 2026 tercatat 0,08 persen, turun drastis dari 0,80 persen pada September yang menjadi level tertinggi sepanjang tahun. Badan Pangan Nasional menyalurkan sekitar 161 ribu ton Cadangan Beras Pemerintah sepanjang Oktober untuk menahan fluktuasi harga di tingkat konsumen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan angka tersebut dalam jumpa media di Jakarta. Inflasi beras di tingkat eceran tercatat 0,08 persen secara bulanan, sementara di tingkat penggilingan naik 0,26 persen.

Penurunan inflasi beras turut menekan inflasi pangan bulanan ke 0,77 persen, setelah September berada di 1,46 persen. Inflasi umum bulanan juga melandai ke 0,22 persen dari 0,33 persen pada bulan sebelumnya.

Bapanas Kejar Realisasi SPHP Sejak Maret

Bapanas memberikan penugasan tambahan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras guna menahan gejolak harga selama Oktober. Penugasan pertama penyaluran SPHP beras sejak Maret dilaporkan telah direalisasikan 100 persen oleh Bulog pada minggu keempat September.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan stok beras nasional berada di level tertinggi sepanjang sejarah. Menurutnya, kondisi global sedang dalam siaga waspada, tetapi pasokan dalam negeri dinilai kuat.

"Beras itu harus terus dijaga kestabilannya. Kondisi global saat ini sedang siaga waspada. Namun kita di Indonesia, insya Allah aman. Pangan kita kuat. Apalagi stok beras tertinggi sepanjang sejarah," kata Amran.

Gerakan Pangan Murah 1.595 Kali di 38 Provinsi

Selain SPHP, Bapanas bersama pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan swasta menggelar Gerakan Pangan Murah sepanjang Oktober. Realisasinya mencapai sedikitnya 1.595 kali di 38 provinsi.

Pemerataan stok dari daerah surplus ke defisit juga dilakukan lewat Fasilitasi Distribusi Pangan. Sepanjang Oktober, realisasi FDP tercatat lebih dari 22,2 ton berbagai komoditas, termasuk pengiriman cabai rawit merah ke wilayah yang harganya berfluktuasi.

Harga Eceran Masih Jadi Catatan

Meski inflasi beras nyaris nol, BPS menilai pergerakan harga di tingkat eceran tetap perlu diperhatikan pemerintah. Pantauan Bapanas per 2 November mencatat harga beras premium rata-rata nasional Rp 16.218 per kilogram dan medium Rp 13.686 per kilogram.

Dari sisi produksi, BPS melaporkan produksi beras Januari–Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton. Angka itu sedikit lebih tinggi 0,07 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 25,26 juta ton.

Bayangan El Nino dan Proyeksi Bank Dunia

Tantangan ke depan datang dari fenomena El Nino yang tidak hanya melanda Indonesia tetapi juga skala dunia. Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2026 memperkirakan harga pangan naik 10 persen tahun ini dan kembali naik 7 persen pada 2027 akibat El Nino.

Amran menyatakan pemerintah sudah bersiap sejak jauh hari, dari penguatan hulu sampai hilir. "El Nino saat ini dikatakan yang paling berat. Tapi Indonesia sudah bersiap sejak jauh-jauh hari, mulai dari penguatan hulu sampai hilir. Tidak perlu khawatir berlebihan. Insya Allah pangan kita aman," ujarnya.

Bagi pelaku pasar, angka inflasi beras yang mendekati nol memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas harga pangan tanpa tekanan tambahan dari sisi volatile food. Namun kenaikan harga di tingkat penggilingan sebesar 0,26 persen perlu dicermati karena menyangkut margin petani dan pedagang.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: infoekonomi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top