SULAWESI SELATAN — Usulan yang disebarkan Trump melalui media sosial pada Minggu (7/9) itu menyebut perubahan nama akan lebih "bergengsi dan indah" bagi penduduk New Mexico. Gedung Putih bahkan mengunggah ulang gambar yang memperlihatkan kata "Mexico" pada peta negara bagian itu dicoret dan diganti dengan "America". Beberapa laporan media AS menyebut gagasan tersebut berawal dari hoaks yang beredar di internet.
Gubernur Michelle Lujan Grisham merespons cepat usulan itu dalam wawancara dengan Fox News. "Nama itu tidak untuk diperdebatkan, nama itu sudah menjadi milik kami sejak sebelum Amerika Serikat terbentuk," ujarnya.
Grisham menilai manuver Trump merupakan upaya pengalihan isu. Menurutnya, publik tengah menghadapi masalah nyata seperti lonjakan harga bahan bakar, bukan sekadar wacana perubahan nama wilayah.
Usulan soal New Mexico bukan yang pertama. Pekan lalu, Trump mengusulkan penggantian nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, namun beberapa jam kemudian ia memberi sinyal tidak serius.
Sebelumnya, pada hari pertama kembali ke Gedung Putih awal 2025, Trump telah meneken perintah mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk America—langkah yang ditolak pemerintah Meksiko. Awal bulan ini, Kanada juga menolak rencana penggantian nama Danau Ontario menjadi Danau America, yang dikaitkan dengan tensi perang dagang kedua negara.
Gubernur Grisham, kader Partai Demokrat, menjadi penyeimbang politik bagi Trump yang berasal dari Partai Republik. New Mexico sendiri memiliki populasi Hispanik yang signifikan, dengan ikatan historis dan kultural kuat terhadap warisan nama asalnya.
Nama New Mexico diambil dari wilayah Nuevo México era kolonial Spanyol, jauh sebelum wilayah tersebut menjadi bagian dari AS pada 1912. Hingga kini, belum ada mekanisme resmi yang diajukan Gedung Putih untuk memproses usulan perubahan nama negara bagian tersebut.