Erupsi Anak Krakatau 2026: Fenomena Langka Erupsi Ganda Efusif-Eksplosif

Penulis: Chandra Kusuma  •  Senin, 07 September 2026 | 18:22:31 WIB
Letusan Gunung Anak Krakatau memuntahkan material vulkanik yang terlihat dari kejauhan.

SULAWESI SELATAN — Dr Eng Ir Mirzam Abdurrachman ST, MT, pakar vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa secara umum erupsi gunung api terbagi menjadi dua jenis berdasarkan kekuatan dan sifatnya. Pembagian ini menjadi dasar untuk memahami fenomena yang terjadi di Anak Krakatau.

Dua Jenis Erupsi yang Umum Terjadi

Jenis pertama adalah erupsi eksplosif, yaitu letusan besar yang disertai tekanan gas sangat tinggi dan melontarkan material padat seperti batu serta abu vulkanik. Jenis kedua adalah erupsi efusif, yang merupakan keluarnya magma cair menjadi lelehan lava tanpa disertai ledakan besar.

Pada kebanyakan gunung api, saat terjadi letusan, hanya satu dari dua tipe erupsi tersebut yang berlangsung. Namun, kondisi berbeda justru teramati pada aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi belakangan ini.

Keunikan Erupsi Anak Krakatau

"Anak Krakatau rupanya bisa dua-duanya terjadi barengan," kata Mirzam kepada detikINET, Senin (7/9/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa proses erupsi ganda tengah berlangsung di gunung tersebut.

Menurut Mirzam, rangkaian erupsi di Anak Krakatau diawali dengan fase efusif yang ditandai kemunculan lava fountain atau air mancur lava setinggi beberapa meter. Lava tersebut kemudian mengalir di permukaan tanah sebagaimana karakteristik erupsi efusif pada umumnya.

Namun, setelah fase tersebut, gunung justru mengeluarkan abu vulkanik yang merupakan ciri khas dari erupsi eksplosif. "Erupsi efusif itu pembukaannya ada lava fountain dengan tinggi beberapa meter, kemudian lava yang mengalir biasa di permukaan tanah. Erupsi eksplosif pembukaanya seperti buka botol sampanye yang dikocok, keluar batu dll, sekarang tinggal abunya," jelas Mirzam.

Perbedaan dengan Gunung Lain

Fenomena ini dinilai langka karena erupsi eksplosif dan efusif jarang terjadi secara bersamaan di gunung api lain. Mirzam membandingkannya dengan Gunung Guntur dan Gunung Papandayan yang memiliki jeda waktu bertahun-tahun antara periode erupsi efusif dan eksplosifnya.

"Gunung Guntur dan Gunung Papandayan itu erupsi efusif dan eksplosifnya jeda bertahun-tahun," pungkasnya. Kondisi inilah yang membuat erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2026 menjadi peristiwa yang unik dan menarik untuk dikaji lebih lanjut oleh para peneliti.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top