Universitas Hasanuddin (Unhas) berencana menyusun buku sejarah lengkap tentang Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional yang namanya diabadikan sebagai nama kampus terbesar di Indonesia Timur itu. Gagasan ini disampaikan Rektor Unhas Prof Dr Jamaluddin Jompa saat memimpin ziarah ke makam Sultan Hasanuddin di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu.
MAKASSAR — Rencana penyusunan buku ini dinilai penting karena selama ini pemahaman tentang sosok Sultan Hasanuddin di lingkungan kampus dinilai belum utuh. Unhas memiliki tanggung jawab moral untuk memahami sejarah perjuangan pahlawan tersebut secara lebih mendalam, tidak hanya sekadar menggunakan namanya sebagai identitas institusi.
Prof JJ, sapaan akrab rektor, menegaskan bahwa nama Unhas yang terinspirasi dari Sultan Hasanuddin mengandung makna historis yang melekat. Nilai-nilai perjuangan dan keteladanan yang diwariskan Sang Ayam Jantan dari Timur ini harus menjadi pengingat bagi keberlanjutan institusi.
"Saya minta kita memaknai sejarah bukan hanya untuk mengetahui mereka yang sudah mendahului kita, tetapi juga mengingat dan mengimplementasikan setiap perbuatan dan setiap aksi yang dilakukan para pendahulu kita," kata Prof JJ dalam keterangannya di Makassar, Minggu.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof Dr Andi Muhammad Akhmar, menyatakan kesiapannya untuk mewadahi proses penyusunan buku sejarah tersebut. Langkah ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih baik bagi seluruh sivitas akademika, termasuk dosen dan tenaga kependidikan.
Buku yang direncanakan ini nantinya diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga bacaan yang memperkaya wawasan tentang perjuangan Sultan Hasanuddin dalam melawan kolonialisme di Sulawesi Selatan.
Kegiatan ziarah ke makam Sultan Hasanuddin yang dilakukan rektor beserta jajarannya merupakan tradisi tahunan yang digelar menjelang perayaan Dies Natalis Unhas. Tahun ini, Unhas tengah bersiap merayakan dies natalisnya yang ke-70.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-70 Unhas, Prof Dr A. Mujetahid yang juga Dekan Fakultas Kehutanan, menjelaskan tradisi ini dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu. "Meskipun ini merupakan kegiatan tahunan, Unhas mempertahankan tradisi ini untuk selalu mengenang jasa dan pengabdian para pendahulu kita, baik pada dosen maupun tenaga kependidikan," jelasnya.
Langkah Unhas ini menjadi penting di tengah upaya penguatan narasi sejarah lokal Indonesia Timur. Sultan Hasanuddin yang memerintah Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-17 dikenal gigih menentang monopoli dagang VOC, sebuah babak sejarah yang kerap hanya tercatat singkat dalam buku pelajaran sekolah.
Dengan adanya buku yang lebih lengkap, diharapkan generasi muda, khususnya mahasiswa Unhas, dapat meneladani semangat perjuangan dan keteguhan prinsip yang ditunjukkan Sultan Hasanuddin. Hal ini sejalan dengan upaya kampus dalam membentuk karakter lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan jiwa kepemimpinan.