SULAWESI SELATAN — Pendaftaran akses awal dibanderol USD 20 atau setara sekitar Rp 330 ribu per pengguna. Hingga saat ini, platform tersebut baru memiliki ratusan pengguna dan masih dalam tahap pengembangan awal.
Keputusan Operation Bluebird untuk meluncurkan Twitter.now tidak terlepas dari perkembangan sengketa hukum dengan X Corporation. Pada sidang April 2026, Hakim Pengadilan Distrik AS Colm Connolly memberikan putusan sementara bahwa X Corp dinilai telah melepaskan klaim kekayaan intelektual atas kata 'tweet' dan logo burung Twitter, serta kemungkinan besar atas nama 'Twitter' itu sendiri.
Meski perintah tertulis belum dikeluarkan, bagi Stephen Coates, salah satu pendiri Operation Bluebird yang juga mantan pengacara Twitter era pra-Musk, pernyataan hakim sudah cukup menjadi dasar untuk bergerak. X Corporation sebelumnya menggugat Operation Bluebird dan meminta hakim federal di Delaware menerbitkan perintah sementara guna mencegah peluncuran platform ini, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Sekilas, tampilan Twitter.now memang mirip dengan Twitter generasi lawas—lengkap dengan kolom balasan dan fitur retweet. Namun, Coates menegaskan bahwa produk ini bukan sekadar replika. "Twitter.now bukanlah upaya untuk menghidupkan kembali platform lama. Kami sedang membangun layanan yang berbeda, dengan sinyal kepercayaan yang memberikan konteks untuk apa yang pengguna lihat," ujarnya, dikutip dari TechCrunch pada Sabtu (29/8/2026).
Perbedaan utama Twitter.now dengan pendahulunya terletak pada sistem moderasi dan kurasi konten. Platform ini mengandalkan mesin AI bernama Vera yang berfungsi sebagai alat pengecek fakta otomatis. Sistem tersebut bekerja dengan mengukur postingan, memeriksa klaim, serta memberikan sumber dan konteks kepada pengguna. Setiap konten akan diberi skor kepercayaan yang bisa diatur sesuai preferensi individu.
Fitur skor kepercayaan ini menjadi pembeda utama yang ditawarkan Twitter.now. Pengguna diberi kebebasan untuk menentukan ambang batas kredibilitas, sehingga dapat menyaring postingan yang dianggap kurang terpercaya dari linimasa mereka. "Alat yang memungkinkan pengguna—bukan algoritma yang buram—untuk menentukan seberapa banyak kredibilitas dan kebisingan yang mencapai feed mereka," jelas Coates.
Operation Bluebird juga berencana memanfaatkan Vera untuk kebutuhan moderasi konten secara menyeluruh. Dengan pendekatan ini, startup mencoba menawarkan alternatif ruang publik digital yang menurut Coates dibangun berdasarkan kepercayaan, transparansi, dan pilihan pengguna.
Kehadiran Twitter.now menambah daftar panjang platform sosial yang mencoba mengisi kekosongan setelah era kepemimpinan Musk di X yang kontroversial. Bagi pengguna Indonesia yang ingin bernostalgia dengan tampilan Twitter klasik—atau sekadar mencari platform dengan sistem verifikasi fakta yang lebih transparan—pendaftaran awal ini bisa menjadi pintu masuk untuk mencoba layanan tersebut.