MAKASSAR — Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa keputusan pindah partai merupakan hak pribadi setiap kader. Menurutnya, partai tidak memiliki kewenangan untuk memaksa seseorang tetap bertahan jika yang bersangkutan sudah menentukan pilihan politik berbeda.
"Masalah politik adalah urusan pribadi, ketika dia sudah menentukan pilihan politik, beralih ke partai lain, saya kira tidak bisa dihalangi," ujarnya kepada wartawan di sela Bimtek dan Konsolidasi di Makassar, Minggu.
Meski membuka ruang bagi kader yang ingin pergi, Syaharuddin mengingatkan agar setiap kader tidak melupakan sejarah perjalanan politik mereka. Ia menekankan bahwa posisi kepala daerah yang kini diemban merupakan hasil perjuangan panjang bersama Partai NasDem sejak awal Pemilu.
Bupati Kabupaten Sidrap ini menyebut seluruh kepala daerah yang diusung NasDem pada Pilkada Serentak 2024 lalu adalah kader murni partai. Mereka dibangun dan dibesarkan oleh mesin politik NasDem hingga berhasil duduk di kursi kepemimpinan daerah.
"Kami di NasDem ini adalah kader yang membangun dari awal Pemilu dengan posisi kepala daerah NasDem yang ada sekarang ini. Itu adalah kader murni di Partai NasDem," kata mantan Wakil DPRD Sulsel ini menegaskan.
Syaharuddin mengaku optimistis para kader yang tersebar di sejumlah daerah tetap berkomitmen menjaga dan membesarkan partai. Ia menilai tawaran dari partai lain adalah hal lumrah dalam politik, namun ia yakin komitmen perjuangan para kader tidak akan goyah.
Dari 24 kabupaten kota di Sulsel, enam kepala daerah berasal dari NasDem dan berhasil menang pada Pilkada Serentak 2024. Mereka adalah Syaharuddin Alrif (Sidrap), Muhammad Yusran Lalogau (Pangkep), Tasming Hamid (Parepare), Andi Irwan Hamid (Pinrang), Paris Yasir (Jeneponto), dan Muh Yusuf R (Enrekang).
Belakangan, Bupati Enrekang Muh Yusuf R diketahui pindah ke Partai Gerindra. Dugaannya, ia ditawari jabatan strategis oleh pimpinan Gerindra di kabupaten setempat.
Menanggapi isu bahwa beberapa kepala daerah lain akan menyusul langkah Muh Yusuf R, Syaharuddin membantahnya. Ia menyebut tidak ada rencana perpindahan dalam waktu dekat dan menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar.
Dalam politik praktis, lobi dan negosiasi antarpartai memang tidak bisa dihindari. Syaharuddin mengakui bahwa para kepala daerah kerap menerima tawaran bergabung dengan partai lain, termasuk dengan iming-iming posisi strategis.
"Yang namanya orang lobi-lobi, negosiasi, pasti ada. Tapi saya rasa komitmen perjuangan, konsisten menjalankan amanah, Insyaallah kader kami menjaga dengan baik," tuturnya optimistis.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa NasDem Sulsel memilih pendekatan persuasif ketimbang konfrontatif dalam menghadapi dinamika politik di daerah. Partai tampaknya lebih mengandalkan loyalitas dan kesadaran kader untuk tetap bertahan.