SULAWESI SELATAN — Perbedaan cara pandang ini muncul saat pasangan ganda campuran Indonesia itu mempersiapkan diri menuju ajang paling bergengsi di kalender BWF tersebut. Bagi Amri, kritik yang datang belakangan ini bukanlah sesuatu yang perlu dihindari, melainkan justru menjadi sinyal untuk meningkatkan performa di lapangan.
Amri Syahnawi menilai kritik yang dialamatkan kepadanya dan Nita merupakan bagian dari dinamika kompetisi. Ia lebih memilih merespons dengan pembuktian di lapangan ketimbang berdebat di luar arena.
“Saya anggap ini pelajaran. Tentu ada evaluasi yang perlu kami perbaiki,” ujarnya. Sikap ini diambil Amri karena ia sadar ekspektasi publik terhadap ganda campuran Indonesia selalu tinggi di ajang sebesar Kejuaraan Dunia.
Berbeda dengan pasangannya, Nita Violina Marwah memilih untuk mengabaikan suara-suara miring yang beredar. Ia lebih berkonsentrasi pada peningkatan kualitas permainan dan kekompakan tim.
“Kalau saya sih cuek saja. Yang penting kami fokus kerja keras di lapangan,” kata Nita. Ia percaya hasil akhir nanti akan berbicara sendiri tanpa perlu meladeni kritik yang belum tentu membangun.
Pasangan ini sadar persaingan di nomor ganda campuran semakin ketat. Beberapa negara seperti China, Korea Selatan, dan Jepang datang dengan kekuatan penuh dan materi pemain yang merata.
Pekan-pekan terakhir sebelum keberangkatan pun dimanfaatkan Amri/Nita untuk mematangkan pola permainan. Komunikasi di lapangan menjadi fokus utama mereka, sebab sektor ganda campuran kerap ditentukan oleh kerja sama dan transisi serangan yang cepat.
Kejuaraan Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian bagi keduanya untuk menunjukkan bahwa tempat mereka di skuad utama bukan sekadar pelengkap. Dengan persiapan matang dan mental yang berbeda, Amri/Nita berharap bisa melaju jauh dan merebut hasil terbaik.