MAKASSAR — Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Sulsel Angkaswantoro mengungkapkan bahwa rantai pasok program ini telah melibatkan 1.665 penyuplai lokal, mulai dari penyedia bahan pangan hingga mitra pendukung lainnya. Angka ini menunjukkan bahwa program MBG telah menjadi penggerak ekonomi di tingkat akar rumput.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, operasional SPPG di seluruh kabupaten dan kota di Sulsel hingga Juni 2026 menyerap 39.918 tenaga kerja secara langsung. Angkaswantoro menekankan bahwa angka ini membuktikan program MBG bukan sekadar intervensi gizi, melainkan juga instrumen penciptaan lapangan kerja.
"Keterlibatan penyuplai lokal ini turut mendorong perputaran ekonomi di daerah serta memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah," katanya di Makassar, Kamis.
Selain anak sekolah, program MBG menyasar ibu hamil serta bayi di bawah dua tahun (baduta). Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Pemerintah pusat dan daerah berharap intervensi gizi ini mampu menekan angka prevalensi kekurangan gizi kronis di provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 9 juta jiwa ini.
Angkaswantoro menegaskan, DJPb Sulawesi Selatan akan terus mendukung keberlanjutan program melalui pengelolaan anggaran yang akuntabel dan tepat sasaran. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai krusial agar manfaat program semakin dirasakan luas.
"Kita berharap, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan dapat terus terjaga agar manfaat program ini semakin dirasakan luas oleh masyarakat Sulawesi Selatan," ucapnya.
Dengan cakupan 1,92 juta penerima dan ribuan tenaga kerja yang terserap, program MBG di Sulsel menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia timur. Data ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk memperluas jangkauan dan memperkuat sistem distribusi pangan bergizi di wilayah kepulauan dan pedalaman.