MAKASSAR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar bukan sekadar dapur umum. Dua Guru Besar kampus tersebut memaparkan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berjalan sejak dua bulan lalu telah dirancang sebagai laboratorium riset terpadu untuk mencetak formula gizi yang tepat sasaran.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof Veny Hadju, mengungkapkan bahwa SPPG Unhas menjadi wadah bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam rantai produksi pangan bergizi. "SPPG yang di Unhas ini jadi laboratorium yang bagus buat saya, dosen, peneliti, maupun mahasiswa. Kita libatkan semua," ujarnya dalam diskusi publik "SPPG Unhas: Laboratorium MBG untuk Gizi Bangsa" di Makassar, Kamis.
Unhas tidak hanya menyiapkan menu makanan. Prof Veny menjelaskan bahwa pihaknya telah mengelola divisi food and beverage di Rumah Sakit Unhas melalui PT Hadin Metavisi Akademika. Divisi ini memasok makanan ringan dan siang, sehingga infrastruktur SPPG langsung teruji. “Kebetulan, saya bidangnya gizi dan waktu di Amerika melihat langsung program woman in child nutrition, bagaimana pemberian makanan anak sekolah di sana,” tuturnya.
Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof Syahdar Baba, menambahkan bahwa SPPG didesain dari hulu ke hilir. Pihaknya merancang kebutuhan telur dan daging berkualitas tinggi dengan intervensi pakan ternak. "Kami akhirnya mendesain itu sejak dari peternakan. Ada intervensi terkait pakannya berkualitas, istilahnya food suplemen diberikan, sehingga kualitas telur dan daging yang dihasilkan jauh lebih baik," paparnya.
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa meminta setiap fakultas menyumbang inovasi. Fakultas Teknik, misalnya, mendapat tugas mendesain mobil pengantaran makanan ke sekolah yang lebih efisien dan ompreng (wadah makanan) produksi dalam negeri. "Bahkan rektor meminta Dekan Fakultas Teknik mendesain mobil pengantaran lebih mudah ke sekolah, serta omprengnya jangan impor. Ini merupakan kontribusi kami pada ekosistem MBG," kata Prof Syahdar.
SPPG Unhas telah menyentuh mitra dan sekolah melalui program pengabdian masyarakat. Edukasi gizi seimbang menjadi pendamping produksi makanan. “Edukasi gizi seimbang menjadi pendamping SPPG serta terus melakukan evaluasi demi mendapatkan formula gizi yang tepat sasaran dan berkualitas,” ujar Prof Veny. Unhas memiliki FKM untuk pemenuhan gizi hingga Fakultas Kedokteran yang menjadi dasar pembentukan MBG, sehingga kampus ini dinilai paling siap menjadi laboratorium pemenuhan gizi nasional.
Prof Syahdar menuturkan SPPG Unhas baru berjalan dua bulan sejak diluncurkan. Saat ini pihaknya terus mendesain produk makanan yang dapat diadaptasikan ke SPPG guna memproduksi gizi bagi masyarakat. “Program ini kita kawal terus dan kepentingan kami di Fakultas Peternakan memberikan nilai terbaik serta membangun empati dalam pengabdian ke masyarakat, terutama mitra Unhas,” katanya.
Dengan integrasi lintas fakultas dan dukungan riset internasional, Unhas optimistis SPPG bisa menjadi blue print bagi sekolah dan masyarakat di Sulawesi Selatan. “Di Unhas ini jadi laboratorium gizi. Bagus, karena literatur atau studi-studi dipublikasi dunia Internasional itu sangat banyak di Unhas terkait dengan gizi,” pungkas Prof Veny.