SULAWESI SELATAN — Hasil imbang di Bournemouth membuat Man City tertahan di 78 poin, tertinggal empat angka dari Arsenal yang bercokol di puncak klasemen. Dengan satu pertandingan tersisa, jarak itu tak lagi terkejar. Secara matematis, gelar juara sudah menjadi milik The Gunners.
Ini menjadi momen bersejarah bagi Arsenal. Klub asal London Utara itu terakhir kali merasakan manisnya juara Liga Inggris pada musim 2003/2004 — era di mana mereka menyabet trofi dengan status tak terkalahkan, The Invincibles. Penantian selama 22 tahun pun akhirnya usai sudah.
Pertandingan di Vitality Stadium berjalan sengit. Bournemouth tampil percaya diri di hadapan pendukung sendiri dan berhasil memimpin lebih dulu melalui aksi Eli Junior Kroupi pada menit ke-39.
Man City menekan habis-habisan sepanjang babak kedua. Namun, baru pada masa injury time, mereka mampu menyamakan kedudukan lewat sontekan Erling Haaland. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Hasil seri itu menjadi titik akhir perlawanan Man City. Mereka gagal memanfaatkan tekanan kepada Arsenal dan harus mengakui keunggulan The Gunners di puncak klasemen.
Kunci keberhasilan Arsenal musim ini tak lepas dari keputusan manajemen yang terus mempertahankan Mikel Arteta sebagai pelatih. Arteta, yang mulai menangani The Gunners sejak 2019, kini menuai hasil dari proses pembangunan skuad yang panjang.
Ia berhasil membentuk tim dengan kedalaman skuad yang solid. Pemain-pemain inti dan pelapis memiliki kualitas yang merata, sehingga Arsenal mampu tampil konsisten sepanjang musim.
Gelar ini juga datang di waktu yang sempurna. Arsenal dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain pada final Liga Champions, Sabtu (30/5).
Dengan status juara di tangan, Arteta punya keleluasaan untuk mengistirahatkan pemain-pemain bintang saat melawan Crystal Palace di akhir pekan ini. Kondisi fisik para penggawa utama bisa terjaga dan siap tempur di partai puncak Eropa.
Final Liga Champions di Munich nanti akan menjadi panggung bagi Arsenal untuk menutup musim dengan double winner — suatu pencapaian yang hanya bisa diraih oleh tim-tim besar sepanjang sejarah.